Mari Berkarya Untuk Negeri

Mari Berkarya Untuk Negeri

Jumat, 23 Juli 2010

Teori Konspirasi Intelijen

by elang langit
Sebuah artikel menarik dalam sebuah Blog anak muda progressif patut untuk disimak. Intisari tulisan tersebut adalah tentang teori konspirasi intelijen yang mengambil kasus Pilkada Aceh. Lihat konflik-pilkada-aceh-dan-teori konspirasi intelijen yang ditulis oleh Syaiful Haq.

Catatan yang ingin saya berikan atas tulisan tersebut adalah sbb:
1. Tulisan kritis atas kemungkinan intelijen mengembangkan teori konspirasi yang kemudian membentuk sebuah opini ada benarnya. Misalnya ketika membahas bahwa teori konspirasi menjadi masalah besar ketika masuk pada tiga area (Syafii Anwar). Pertama, ketika teori konspirasi mengarah kepada apa yang disebut sebagai paranoia within reason. Selalu ada semacam paranoia atau ketakutan yang berlebihan, yang selalu mengikut dalam akal manusia. Kedua, teori konspirasi juga mengembangkan apa yang dalam ilmu komunikasi disebut sebagai systematically distortion of information. Informasi yang di didistorsi sedemikian rupa secara sistematis sehingga sulit untuk dipertanggungjawabkan. Tentu kita ingat pepatah, kebohongan yang diulang seribu kali akan menjadi sebuah kebenaran. Ketiga, teori konspirasi juga selalu mengarah kepada terrorizing of the truth, karena sulit dibuktikan maka pernyataan yang berbau konspiratif justru menjadi teror bagi kebenaran. Tetapi ada hal-hal yang lebih penting ketimbang ketiga hal tersebut di atas.
2. Ketakutan yang berlebihan bisa dilabelkan kepada rejim-rejim yang mengharamkan keterbukaan (otoriter-militer). Indonesia yang sekarang lebih terbuka dengan sistem politik demokratis tidak lagi dihantui oleh ketakutan yang berlebihan. Pernyataan Kepala BIN saya kira lebih cocok bila dianggap sebagai peringatan dini yang bertujuan mendorong semua elemen masyarakat Aceh untuk mencegah terjadinya disintegrasi bangsa ataupun kegagalan dalam pemilu.
3. Distorsi informasi? dalam dunia ini tidak ada informasi yang murni tanpa distorsi. Apabila intelijen melakukan dengan sengaja sebuah proses distorsi, maka hal itu akan lebih jelas bila kita mengambil contoh kasus perang ideologi komunisme versus liberal kapitalisme di dunia. Dalam kasus-kasus negara kesatuan vs gerakan separatisme, distorsi informasi juga terjadi. Tetapi dalam pilkada Aceh yang terjadi adalah sinergi informasi yang bertujuan meminimalkan potensi-potensi konflik yang bisa timbul dari pelaksanaan pilkada terbesar di Indonesia tersebut. Potensi konflik tidak secara eksklusif ditujukan kepada kelompok GAM, karena GAM telah menjadi bagian dari bangsa Indonesia yang memiliki hak yang sama dalam pilkada. Melainkan secara general mengarah pada persaingan antara elit lokal yang dikhawatirkan bisa mengarah pada tindakan kerusuhan dari pihak yang kalah dalam pilkada. Karena itulah dikembangkan saling pengertian dan ikrar untuk menghormati hasil pilkada dari seluruh kandidat. Semua tujuannya untuk memperkecil potensi konflik dalam pelaksanaan pilkada.
4. Teror terhadap kebenaran? sungguh aneh bila sebuah peringatan dini dianggap sebagai teror. Peringatan dini bukanlah sebuah fakta mutlak yang harus diterima, melainkan sebuah pengingat bagi semua pihak.
Tulisan ini bukan pembelaan untuk komentar-komentar pimpinan BIN, hanya sebuah respon yang mudah-mudahan bisa diterima. Lebih jauh lagi seorang pimpinan intelijen tidak sembarangan dalam berkomentar di depan publik. Ada tujuan-tujuan mulia untuk kepentingan yang lebih luas bagi seluruh komponen bangsa. Dalam kasus Aceh, kepentingan untuk mensukseskan pilkada yang damai jauh lebih penting daripada menyoroti soal GAM, non-GAM serta analisa separatisme lainnya.
Ah....sekarang saya tuliskan bagian benarnya. Disadari ataupun tidak, potensi kekeliruan ke arah tiga area yang menimbulkan teori konspirasi intelijen bisa saja terjadi. Hal ini perlu didukung oleh kebijakan nasional/institusional yang serius dalam mendefinisikan ancaman. Sebagai contoh, komunisme dalam era Orde Baru mendapat julukan bahaya laten, sehingga harus ditumpas hingga akar-akarnya. Lebih luas lagi, pada periode tsb sangat jelas terjadi teori konspirasi intelijen yang memberangus setiap potensi pemikiran tentang ide-ide yang melawan dominasi negara (komunis, agama, demokrasi, dll).
Apabila di era demokrasi ini terjadi lagi penciptaan teori konspirasi intelijen, maka akan sangat mudah bagi masyarakat untuk segera melihatnya. Hal ini disebabkan oleh keterbukaan yang menyediakan segudang informasi untuk segera mengcounter sebuah teori konspirasi intelijen.
Sekian

Tidak ada komentar:

Posting Komentar